Fungsi, Tujuan, dan Ruang Lingkup Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

ilmu pengetahuan sosial

Hakikat Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Fungsi, Tujuan, dan Ruang Lingkup Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) – Menurut Rudy Gunawan (2011: 93), hakikat Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah telaah tentang manusia dan dunianya. Manusia sebagai makhluk sosial selalu hidup bersama dengan sesamanya.

Fungsi dan Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan di sekolah dasar yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di dalamnya memuat materi geografi, sejarah, sosiologi, dan ekonomi. Melalui mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), anak diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.

Menurut Rudy Gunawan (2011: 37) pembelajaran IPS bertujuan membentuk warga negara yang berkemampuan sosial dan yakin akan kehidupannya sendiri di tengah-tengah kekuatan fisik dan sosial, yang pada gilirannya akan menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab.

Dengan demikian  pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) mempunyai peranan penting dalam mengarahkan anak untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.

Ruang Lingkup Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Menurut Rudy Gunawan (2011: 39), ruang lingkup mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) meliputi aspek-aspek sebagai berikut:

  1. Manusia, tempat, dan lingkungan.
  2. Waktu, berkelanjutan, dan perubahan.
  3. Sistem sosial dan budaya.
  4. Perilaku ekonomi dan kesejahteraan.
  5. IPS SD sebagai Pendidikan Global (global education), yakni: mendidik siswa akan kebhinekaan bangsa, budaya, dan peradaban di dunia; menanamkan kesadaran semakin terbukanya komunikasi dan transportasi antar bangsa di dunia; mengurangi kemiskinan, kebodohan dan perusakan lingkungan.

Pembelajaran IPS SD dengan Model Kooperatif Tipe STAD

Hamid Hasan dkk (Etin Solihatin, 2009: 1) menyatakan bahwa, Memerhatikan tujuan dan esensi pendidikan IPS, sebaiknya penyelenggara pembelajaran IPS mampu mempersiapkan, membina, dan membentuk kemampuan peserta didik yang menguasai pengetahuan, sikap, nilai, dan kecakapan dasar yang diperlukan bagi kehidupan di masyarakat. Untuk menunjang tercapainya tujuan IPS tersebut harus didukung oleh iklim pembelajaran yang kondusif. Iklim pembelajaran yang dikembangkan oleh guru mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan, kualitas dan semangat belajar siswa. Kualitas dan keberhasilan pembelajaran sangatdipengaruhi oleh kemampuan dan ketepatan guru dalam memilih dan menggunakan metode pembelajaran.

Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di sekolah dasar harus memperhatikan kebutuhan anak yang berusia 7-11 tahun. Anak dalam usia 7-11 tahun menurut Piaget (Rudy Gunawan, 2011: 38) berada dalam perkembangan kemampuan intelektual/kognitifnya pada tingkatan kongkret operasional. Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh, dan menganggap tahun sebagai waktu yang masih jauh. Yang mereka pedulikan adalah sekarang (kongkrit), dan bukan masa depan yang belum mereka pahami (abstrak). Padahal bahan materi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) penuh dengan pesan-pesan yang bersifat abstrak. Konsep-konsep seperti waktu, perubahan, kesinambungan (continuity), arah mata angin, lingkungan, ritual, akulturasi, kekuasaan, demokrasi, nilai, peranan, permintaan, atau kelangkaan adalah konsep-konsep abstrak yang harus dibelajarkan kepada siswa SD.

Berdasarkan hal di atas, bisa kita lihat bahwa pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sangat penting untuk diajarkan. Namun pada prakteknya banyak siswa yang beranggapan bahwa pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah mata pelajaran yang membosankan. Untuk menghilangkan anggapan seperti itu maka digunakanlah pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) dimana siswa ditempatkan dalam kelompok belajar beranggotakan empat atau lima orang siswa yang merupakan campuran dari kemampuan akademik yang berbeda, sehingga dalam setiap kelompok terdapat siswa yang berprestasi tinggi, sedang, dan rendah atau variasi jenis kelamin, kelompok ras dan etnis, atau kelompok sosial lainnya. Terbentuknya kelompok belajar seperti itu diharapkan dapat menjadikan pembelajaran lebih berwarna dan semakin menarik minat siswa untuk belajar, karena memang karakteristik siswa SD pada umumnya di antaranya masih suka bermain dan suka membentuk kelompok dengan teman sebayanya. Sehingga dengan menggunakan model pembelajaran ini, siswa dapat berinteraksi dengan siswa lain yang dikemas dalam suatu pembelajaran kelompok dengan tetap berada di bawah bimbingan guru, agar kegiatan kelompok dapat terarah dengan baik. Dengan demikian, di dalam proses pembelajaran siswa dapat ikut aktif dalam proses pembelajaran.