Indonesia, Aku Lupa Siapa Kamu dan Siapa Diriku….!!

Hot topik dalam minggu ini, taksi konvensional vs taksi online. Okelah jika media memberikan kalimat seperti itu, seperti yang kita ketahui  taksi online saat ini keberadaannya sangat mengganggu taksi konvesional , dengan bantuan sebuah aplikasi yang mudah di akses kapan saja dan dimana saja (halah ngawur, di puncak bisa nggak atau sekalian kenapa tidak juga jika di kutub ?) para pelanggan bisa menggunakan pelayanan taksi tanpa ribet dengan harga yang relatif sama (atau mungkin berbeda?). akan tetapi keberadaan aplikasi ini seharusnya kita flashback pada pemberitaan internasional yang keberadaannya memang tidak diinginkan, salah satunya di prancis dan negara lainnya, berbeda jika di inggris taksi online boleh secara legal beroperasi  di negara tersebut dengan syarat pengemudi bisa berbahasa inggris. Yah jika di indonesia aksi mogok taksi konvensional ada,  di negara lainpun sama, malah tidak berbeda jauh keadaannya “ anarkis ”.

Sangat disayangkan tindakan anarkis tersebut sepatutnya tidak dilakukan, reputasi ? martabat ? siapa musuh ? siapa kawan ? lah ini pengemudi gojek juga kena akibatnya. Serius ini lho…. ada video beredar di sosial media seorang pengemudi gojek dikeroyok oleh beberapa orang dengan pakaian baju biru (meskipun saya tidak mengunggahnya disini, semua sudah pada tau ). Aduh ini orang cari makan buat bini, anak, cucu, adik, ibunya kok malah dikeroyok, digebukin.

Ilegal, jika saya boleh berpendapat dan berkata “ ini aplikasi kok pindah ke indonesia ? dinegara lain tidak ada yang mau nerima loe “, dan perlu juga diketahui bagi para pemilik pengusaha ataupun bos taksi konvesional, ini era digital semua serba online, dan saya pun juga di sibukkan dengan pendataan online satu pintu (apa hubungannya dengan taksi ?), jika mau mencontoh negara cina, mereka tidak mau kalah dengan aplikasi mohok tersebut, aplikasi lokal yang mereka kembangkan terbukti menjadikan perusahaan aplikasi mohok tersebut mengalami kerugian besar. Setidaknya kita bisa beradaptasi dengan perkembangan masa kini, nah ini saya baru tadi siang liat berita “pesantren online”, sebenarnya yang satu ini tidak ada hubungannya, hanya saja media menggempar gemborkan kata online dan mereka adalah media alay. Hanya share belajar ngaji lewat whatsapp itu dibilang pesantren online. Memanfatkan isu taksi online hingga muncullah pemberitaan alay.

Dan kalian yang tawuran, anarkis, kalian adalah orang paling alay……….