Jenis Strategi Belajar dan Pengertiannya

89c08-purestock_1574r-0674b-mediumPengertian Belajar dan Pembelajaran

Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia dan ia mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan. Oleh karena itu, dengan menguasai prinsip-prinsip dasar tentang belajar, seseorang telah mampu memahami bahwa aktivitas belajar itu memegang peranan penting dalam proses psikologis. Konsep tentang belajar telah banyak didefinisikan oleh para psikolog. Gegne dan berliener menyatakan bahwa belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pegalaman. Morgan menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan relatif yang terjadi karena hasil dari praktek atau pengalaman. Selain menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan disposisi atau kecakapan manusia yang berlangsung selama periode waktu tertentu, dan perubahan perilaku itu tidak berasal dari proses pertumbuhan.

Dari keempat pengertian tersebut tampak bahwa konsep tentang belajar mengandung tiga unsur yang utama dalam Catarina Tri Anni[1] yaitu :

  1. Belajar berkaitan dengan perubahan perilaku.
  2. Perubahan perilaku itu terjadi karena didahului oleh proses pengalaman.
  3. Perubahan perilaku karena belajar bersifat relatif permanen

Sementara itu, menurut Slameto[2] menguraikan tentang pengertian belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. Menurut Kofika dan Kohler dalam Slameto[3] dalam belajar yang peling penting adalah adanya penyesuaian pertama yaitu memperoleh respon yang tepat untuk memecahkan problem yang dihadapi. Belajar bukan sekedar mengulangi hal-hal yang dipelajari melainkan mengerti dan memahaminya. Belajar menurut pandangan Skinner seperti dikutip Dimyati dan Mudjiono[4] berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responya menjadi lebih baik. Sebaliknya bila tidak belajar maka responnya menurun.

Dalam belajar ditemukan adanya (1) kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon pembelajaran, (2) respon si pembelajar, dan (3) konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut. Pemerkuat terjadi pada stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut, sebgai ilustrasi, perilaku respon si pembelajar yang baik perlu diberikan hadia sesekali.

Pengertian pembelajaran adalah terjemahan dari kata “instruction” yang berarti perintah, bersifat self intruction (dari internal) dan eksternal instruction (dari eksternal). Pembelajaran yang bersifat ekternal antara lain datang dari guru yang disebut teaching atau pengajaran. Dalam pembelajaran yang bersifat ekternal prinsip-prinsip belajar dengan sendirinya akan menjadi prinsip-prinsip pembelajaran. Prinsip pembelajaran merupakan aturan atau ketentuan dasar dengan sasaran utama perilaku guru, pembelajaran yang berorientasi bagaimana perilaku guru yang efektif[5]

Secara umum pengertian pembelajaran adalah seperangkat peristiwa yang memengaruhi si belajar sedemikian rupa sehingga si belajar itu memperoleh kemudahan dalam berinteraksi dengan lingkungannya (Brings dalam Sugandi)[6], Sama halnya dengan pengertian pembelajaran yang dikemukanan Djamarah [7]menegaskan bahwa pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah kearah yang lebih baik.

Sedangkan pengertian pembelajaran secara khusus adalah sebgai berikut :

  1. Menurut teori behavioristik pembelajaran adalah suatu usaha guru membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan dengan stimulus yang diinginkan perlu latihan, dan setiap latihan yang berhasil harus diberi hadiah reinforcement (penguatan).
  2. Menurut teori Kognitif pembelajaran adalah cara guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir agar dapat mengenal dan memahami apa yang sedang dipelajari.
  3. Menurut teori Gestalt pembelajaran adalah usaha guru memberikan mata pelajaran sedemikian rupa sehingga siswa lebih mudah mengorganisirnya (mengatur) menjadi suatu Gestalt (pola bermakna), bantuan guru diperlukan untuk menguatkan potensi mengorganisir yang terdapat dalam diri siswa.
  4. Menurut teori Humanistik pembelajaran adalah memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajari sesuai dengan minat dan kemampuannya[8]

Berdasarkan dari beberapa pendapat dan berbagai teori di atas dapat ditarik suatu kesimpulan mengenai definisi dari pembelajaran. Pembelajaran adalah seperangkat peristiwa sebagai wahana bagi guru memberikan materi pelajaran dengan sedemikian rupa sehingga siswa lebih muda mengorganisasikannya menjadi pola yang bermakna serta memperoleh kemudahan dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Faktor–faktor yang berpengaruh terhadap proses pembalajaran baik secara eksternal maupun internal diidentifikasikan sebagai berikut. Faktor-faktor eksternal mencakup guru, materi, pola interaksi, media dan teknologi, situasi belajar dan sistem. Masih ada pendidik atau guru yang tidak menguasai materi dan dalam mengevaluasi siswanya menuntut jawaban yang sama persis dengan buku dan yang telah ia jelaskan atau dengan kata lain siswa tidak diberi peluang untuk berfikir kreatif. Guru juga mempunyai keterbatasan dalam mengakses informasi yang baru yang memungkinkan ia mengetahui perkembangan terakhir dibidangnya dan memungkinkan perkembangan yang lebih jauh dari yang sudah tercapai.

sekarang, kurang memberi contoh–contoh yang bersifat kenstektual. Metode penyampaian materi bersifat monoton, kurang memafaatkan berbagai media yang ada secara optimal. Dengan adanya hal–hal tersebut lembaga pendidikan dituntut untuk berusaha meningkatkan kualitas pembelajaran dan proses penyelengaaraan pendidikan, sehingga perlu dicari strategi pencapaian kualitas pembelajaran di lembaga pendidikan.

Menurut Muchith[9] pembelajaran dikatakan efektif jika pembelajaran tersebut mampu memberikan atau menambah informasi atau pengetahuan baru bagi siswa. Sedangkan pembelajaran yang efisien yaitu pembelajaran yang menyenangkan, menggairahkan dan mampu memberikan motivasi bagi siswa untuk belajar. Guru dan proses pembelajaran merupakan dua hal yang memiliki keterkaitan yang sangat erat dan mutlak. Artinya guru akan lebih memiliki makna secara edukatif jika guru mampu melakukan proses pembelajaran denagan baik, tepat, akurat, serta relevan dengan fungsi dan tujuan pendidikan.

Dalam proses pembelajaran sering ditemukan beberapa kendala yang menghambat tercapainya tujuan dari pembelajaran itu sendiri. Problem dalam pembelajaran dilihat dari ranah pendidikan sering didefinisikan adanya suatu kesenjangan antara harapan (yang dicita-citakan) dengan kenyataan (yang dihasilkan). Permasalahan dalam pembelajaran; pertama, problem yang bersifat metodologis, yaitu problem yang menyangkut upaya permasalahan penyampaian materi, kualitas interaksi antara guru dengan siswa, pemberdayaan sarana dan elemen dalam pembelajaran.

Kedua, problem yang bersifat kultural yaitu problem yang berkaitan dengan watak guru dalam menyingkapi atau mempersepsi dalam proses pembelajaran. Problem ini muncul dari pemahaman guru dalam peran guru dan makna pembelajaran. Ketiga, problem yang bersifat sosial yaitu problem yang terkait dengan komunikasi dan hubungan antara guru dengan elemen lain diluar guru[10]

Jenis Strategi Belajar

Berdasarkan teori kogitif dan pemprosesan informasi maka terdapat beberapa srategi belajar yang dapat digunakan dan diajarkan. Menurut Nur dalam (Trianto)[11] strategi belajar tersebut meliputi :

Tabel 2.1

Jenis-Jenis Strategi Belajar

No.

Jenis Strategi Keterangan
a. Strategi mengulang (rebrarsal srtategies) Mengulang sederhana dapat membantu mempertahankan informasi tetap berada dalam memori jangka pendek, namun kurang membantu dalam bermakana informasi baru tersebut, kecuali dengan menggunakan strategi pengulanagan yang lebih kompleks, seperti menggaris bawahi dan membuat catatan pinggir.
b. Strategi elaborasi (elaboration strategies) Strategi elaborasi adalah proses menambahkan rincian dari informasi baru sehingga lebih bermakna, karena sistem pengkodean jadi lebih mudah dan lebih memberi kepastian. Strategi ini meliputi beberapa varian yaitu pembuatan catatan, pengunaan analogi, srtrategibelajarPQ4R(Preview,Question, Read, Reflect, Recite, dan Review).
c. Strategi organisasi (Organitation strategies) Strategi peningkatan kebermaknaan informasi baru, melalui penggunaan struktur-struktur pengorganisasian baru pada informasitersebut. Termasuk dalam strategi ini adalah outhning (membuat kerangka garis besar), mapping (pemetaan konsep), mnemonic (membuat kategori baru).
d. Strategi metakognitif (metakognitive strategies) Strategi metakognitif ini berhubungan dengan pemikiran siswa bagaimana mereka sendiri berfikir dan
kemampuan mereka.

Referensi

[sociallocker id=1253][1] Catarina Tri Anni, 2004. Psikolog Belajar. Semarang: UPT MKK UNNES. h: 2

[2] Slameto. 2005. Belajar dan Faktor –Faktor yang Memengaruhinya (Edisi Revisi). Jakarta: Reneka Cipta. h: 2

[3] Ibid, (Slameto 2005, h: 9)

[4] Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. h: 9

[5] Sugandi, Ahmad. 2004. Teori Pembelajaran. Semarang: UNNES Press, h. 10

[6] Ibid, (Sugandi, 2004: 10)

[7] Djamarah, S, Bahri. 2005. Psikolog Belajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta. h. 24

[8] Ibid, (Sugandi, 2004, h. 9).

[9] Muchith, Saekhan. 2007. Pembelajaran Kontekstual. Semarang: Rasail Media Group. h. 6

[10] Ibid, (Muchith, 2008, h.10).

[11] Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka, h. 88[/sociallocker]