Kiprah Muhammad Abduh Sebagai Ulama’ Pendidikan serta Pengaruhnya Terhadap Ulama Al-Azhar

Sosok Muhammad Abduh merupakan Reformer, keulamaanya tidak bisa diragukan lagi bahkan dari kalangan intelektual kontemporer dikenal dengan sebutan ulama modernis.Salah satu karakteristiknya, dia berani menolak adanya dikotomi ilmu pengetahuan. Hal ini sesuai dengan asumsi bahwa Muhammad Abduh tidak menolak sistem yang ditawarkan oleh sistem pendidikan barat untuk dijadikan mata rantai kurikulum yang diterapkan di lembaga-lembaga pendidikan tinggi islam.

Pemikiran Muhammad Abduh sesuai dengan sistem pendidikan pada saat itu, mewariskan dua tipe pendidikan.Tipe pertama pendidikan formal yang diwujudakan dalam seperangkat kurikulum mulai dari tingkat dasar sampai ke tingkat atas. Kurikulum tersebut ialah.Kurikulum al-Azhar

  • Kurikulum Al-Azhar, Kurikulum perguruan tinggi al-Azhar disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat pada saat itu. Dalam hal ini, ia memasukkan ilmu filsafat, logika, dan ilmu pengetahuan modern ke dalam kurikulum al-Azhar. Upaya ini dilakukan agar output-nyadapat menjadi ulama modern.
  • Tingkat Sekolah Dasar, Muhammad Abduh beranggapan bahwa dasar pembentukan jiwa hendaknya dimulai semenjak kanak-kanak. Dengan memasukkan mata pelajaran agama sebagai inti semua pelajaran yang nantinya dapat memiliki jiwa kepribadian muslim. Jiwa kebersamaan dan nasionalisme yang dapat mengembangkan sikap hidup yang lebih baik, serta dapat meraih kemajuan.
  • Tingkat Atas, Upaya ini dilakukan dengan mendirikan sekolah menengah pemerintah untuk menghasilkan ahli dalam berbagai lapangan administrasi, militer, kesehatan, perindustrian, dan sebagainya.

Ketiga paket di atas merupakan gambaran umum dari kurikulum pelajaran agama yang diberikan dalam setiap tingkat.Dalam hal ini Muhammad Abduh tidak memasukkan ilmu-ilmu barat ke dalam kurikulum yang direncanakan.Dengan demikian. Dalam bidang pendidikan formal muhammad Abduh menekankan pemberian pengetahuan yang pokok, yaitu fikih, sejarah islam, akhlak, dan bahasa.

Dalam pendidikan non formal Muhammad Abduh menekankan terhadap usaha perbaikan (ishlah). Dengan proses pengajaran dan media massa. Ide tersebut di antaranya:

  • Mewujudkan mata pelajaran matematika, geometri, algebra, geografi, sejarah dan seni khat
  • Mewujudkan piawaian dalam penganugerahan sijil
  • Mewujudkan farmasi khusus untuk pelajar Universitas al-Azhar
  • Menyediakan peruntukan gaji guru dari perbendaharaan negara dan waqaf negara.

Dalam bidang metode pembelajarannya, ia membawa cara baru dalam dunia pendidikan pada saat itu. Yaitu metode diskusi yang bertujuan memberikan pengertian yang mendalam pada peserta didiknya serta kegiatan mengajar yang menekankan pada metode yang berprinsip atas kemampuan rasio dalam memahami ajaran Islam dari sumbernya yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits, sebagai ganti metode verbalisme (menghapal). Sering pula mengajarkan bahasa Arab dengan metode demonstrasi tentang cara-cara menulis huruf Arab dengan jelas dan sederhana.

Menekankan pentingnya pemberian pengertian dalam setiap pelajaran yang diberikan. Ia memperingatkan para pendidik untuk tidak mengajar peserta didik dengan metode menghafal, karena metode demikian hanya merusak daya nalar, seperti yang dialami di sekolah farmasi di masjid Ahmadi di Thanta. Semuanya, harus punya dasar membaca, menulis, berhitung dan harus mendapatkan pendidikan Agama. Dengan demikian, upaya yang dilakukan untuk Al-Azhar meliputi:

  • Membentuk dewan pimpinan al-Azhar yang terdiri dari ulama besar dari empat madzhab.
  • Menertibkan administrasi al-Azhar dengan menentukan honor yang layak bagi pengajar,
  • Membangun ruang khusus untuk rektor dan mengangkat para pembantu rektor.
  • Masa belajar diperpanjang dan masa libur diperpendek.

Bertolak dari posisi Ulama Pendidikan, Muhammad Abduh memiliki signifikasi pengaruh besar terhadap ulama-ulama al-Azhar khususnya, para ulama atau calon para ulama institusi al-Azhar. Hal ini dibuktikan dengan beberapa kitab yang pernah ia karang seperti Tafsir al-Manar dan juga aktif menyumbangkan gagasannya lewat berbagai majalah dan surat kabar, seperti al-Ahram (paris), al-Waqaiq al-Misriyah (mesir), dan masih banyak lagi karangan beliau yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.

Dari berbagai hasil produk tinta emas (karya dalam bentuk buku) dan sejumlah majalah dan surat kabar, baik dalam negeri maupun luar negeri, secara bertahap dia menghasilkan peta perubahan kondisi mesir, baik pemikiran para ulama-nya maupun para calon ulama-nya di al-Azhar.