Pengertian Pembelajaran Fiqih

Belajar mengajarSeorang Muslim dengan seorang non Muslim tidak dibedakan berdasarkan KTP-nya. Juga tidak dibedakan berdasarkan ras, darah, golongan, bahasa, kebangsaan atau keturunan tertentu. Tetapi yang membedakan antara kedua adalah berdasarkan apa yang diketahuinya tentang ajaran Islam serta diyakini kebenarannya.Tidak mungkin seorang bisa dikatakan Muslim manakala dia tidak mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan tidak- lah seseorang mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala, manakala dia tidak mengenal ajarAn Nya serta syariat yang telah diturunkAn Nya. Sehingga mengetahui ilmu-ilmu syariat merupakan bagian tak terpisahkan dari status keislaman seseorang.

Mempejari Islam adalah kewajiban pertama setiap Muslim yang sudah aqil baligh. Ilmu-ilmu ke-islaman yang utama adalah bagaimana mengetahui kemauan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap diri kita. Dan itu adalah ilmu syariah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَسْئَلُوْا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لاَتَعْلَمُوْنَ -النحل:43

Artinya:

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ulama) jika kamu tidak mengetahui[i].

Maka sudah seharusnya seorang Muslim menguasai ilmu syariah, karena syariat itu merupakan penjabaran serta uraian dari perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya. Setidak-tidaknya, meski pun tidak sampai ke level ulama atau mujtahid, minimal seorang Muslim tahu bagaimana cara bersuci, wudhu, shalat fardhu, puasa, zakat dan hal-hal yang sifatnya pokok dan mendasar dari ilmu agama.

Sebab tanpa ilmu tentang semua hal itu, statusnya sebagai Muslim nyaris hanya tinggal formalitas belaka. Keislamannya boleh jadi hanya karena kebetulan belaka. Kebetulan orang tuanya Muslim, lahir di tengah keluarga Muslim, sehingga setidak-tidaknya KTP-nya ada tulisannya sebagai Muslim.

Mengenai janji surga yang diberikan kepada para penuntut ilmu dapat dilihat dalam sabda Rasulullah SAW berikut:

مَنْ سََلَكَ طََرِيْقًا يَلْتَمِسُ بِهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إلَى الجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menggapai ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju surga[ii]

Hadits tersebut menegaskan beberapa hal penting:

  • Menuntut ilmu syar’i memudahkan jalan menuju surga dengan dua makna. Pertama, Allah akan memudahkan para thalib al-ilmi -yang memiliki tujuan hanya untuk mencari keridhaan Allah semata dalam mendapatkan ilmu, mengambil manfaat dari ilmu syar’i dan mengamalkan konsekuensinya- untuk memasuki surga-Nya. Kedua, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga pada hari kiamat ketika ia melewati “shirath” dan dimudahkan dari berbagai ketakutan, baik sebelum maupun sesudahnya.
  • lalai menuntut ilmu adalah jalan menuju neraka.

Didalam al- qur’an Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَاكَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَافَةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ (التوبة:122 )

Artinya:

“Tidak sepatutnya bagi mu’minin itu pergi semuanya. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya[iii]

Ayat ini menegaskan tentang keharusan sekelompok orang yang mendalami fiqih dari sekian banyak orang yang berjihad di jalan Allah. Ayat ini membandingkan antara kewajiban berjihad yang pahalanya begitu besar dengan kewajiban menuntut ilmu agama.

Dengan begitu penting nya mempelajari ilmu agama khususnya ilmu fiqih sehingga pemerintah berupaya penerus bangsa ini menjadi penerus yang berahlak kariman upaya tersebut memasukkan mata pelajaran fiqih pada setiap madrasah, dengan pembelajaran PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review) yang iplementasikan di MI Tholabul Ilmi Bringin dasuk diharapkan bisa memberikan pengaruh keberhasilan siswa dalam pengamalan syariat sehari-hari.

Fiqih sendiri telah lama menduduki posisi yang penting diantara berbagai mata pelajaran yang diajarkan diberbagai tingkat pendidikan madrasah. Di kelas bawah dan menengah tingkat madrasa tsanawiyah, akan dipelajari sebagai mata pelajaran tersendiri sambil membentuk diri sebagai bagian dari ilmu agama. Di kelas 5 MI Tholabul Ilmi Bringin Dasuk, fiqih dianjurkan untuk memperkenalkan para siswa pada tatana agama islam mulai dari wajib sampai dengan yang sunnah beserta tatacanya.

Adapun pengertian Fiqih Menurut Jamal Ma’mur Asmani[iv] adalah “Fiqih secara etimologi berarti faham, seperti ungkapan ‘fahimtu kalamaka’ berarti saya memahami ucapanmu. Dan secara terminologi Fiqih berarti pengetahuan tentang hukum-hukum syari’at yang diperoleh melalui metode ijtihad”.

Ijtihad yang dimaksud pada definisi tersebut di atas berarti menggunakan seluruh daya dan upaya (potensi akal) untuk menetapkan hukum syari’at (tentang sesuatu hal) dengan metode istinbat (memetik/mengeluarkan) dari kitab dan sunnah Moh. Riva’i[v], Atau dengan kata lain upaya pencarian hukum hukum tentang sesuatu hal dengan cara merincikan atau mengeluarkan dalil-dalil naqli dari al-Qur’an dan atau al-Hadits al-Shahih. Senada dengan kedua definisi tersebut di atas, Sedangkan menurut Abdul Wahhab Khallaaf[vi] Fiqih yaitu pengetahuan tentang hukum-hukum syari’at yang berhubungan dengan amal perbuatan yang diperoleh dari dalil-dalilnya yang bersifat parsial (dalil yang telah dibahas secara terperinci untuk maksud hukum tertentu, pen) atau juga berarti kumpulan hukum-hukum syari’at yang berhubungan dengan amal perbuatan yang diambil dari dalil-dalilnya yang bersifat parsial.

Mata pelajaran Fiqih dalam kurikulum Madrasah Tsanawiyah didefinisikan sebagai salah satu bagian mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, dan mengamalkan hukum Islam, yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya (way of life) melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, penggunaan pengalaman dan pembiasaan[vii]

Pembelajaran fiqih pada tingkat Madrasah Ibtidaiyyah mengharapkan partisipasi anak yang besar. Pengajar fiqih selalu tidak mengharapkan anak pasif dikelas, tetapi akan selalu memberikan dorongan agar anak aktif dalam mengembangkan fakta, pendapat, waktu dan sebagainya. Keterampilan dalam mengembangkan minat terhadap fiqih tidak saja terletak pada anak tetapi juga tergantung pada kemampuan maksimal setiap pengajar fiqih.

Pelajaran fiqih merupakan kajian ilmiah tentang tuntunan dalam beragama Islam, kesuksesan dan kegagalannya, dan evaluasi masyarakat beserta berbagai aspeknya. Mata pelajaran ini menawarkan materi yang sangat luas, melibatkan berbagai keterampilan, dan mengarahkan pada pemahaman yang ,mendalam serta generalisasi yang akan mengembangkan berbagai kemampuan yang dimiliki oleh para siswa. Ruang lingkup fiqih sangat luas, karena terbatasnya waktu dan agar para siswa dapat mempelajari hal-hal baru pembuat keputusan tentang materi yang harus diajarkan perlu dilakukan secara bijaksana dan hati-hati.

Guru fiqih memiliki peranan penting dalam keseluruhan proses pembelajaran fiqih. Selain mengembangkan bentuk-bentuk alat bantu pembelajaran secara mekanis dan mengembangkan pendidikan yang berfokus pada kemajuan siswa. Guru fiqih juga memegang peranan penting dalam membuat pelajaran fiqih menjadi hidup dan menarik bagi para siswa. Guru fiqih bertanggung jawab menginterpretasikan konsep kepada siswa-siswanya. Hal ini yang kemudian menjelaskan mengapa guru berperan penting dalam pembelajaran fiqih.

Selain itu guru fiqih juga harus memiliki beberapa kualitas pokok, yaitu penguasaan materi dan penguasaan teknik. Setiap guru fiqih harus memperluas pengetahuan historisnya. Pengetahuan yang luas serta teknik mengembangkan berbagai pertanyaan sangat diperlukan oleh guru fiqih. Guru fiqih juga harus menguasai berbagai macam metode dan teknik pembelajaran fiqih, ia harus mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan agar proses belajar mengajar dapat berlangsung cepat dan baik[viii].

Disamping faktor kemampuan guru pelajaran fiqih juga sangat berkaitan dengan tersedianya fasilitas atau kelengkapan kegiatan belajar mengajar, baik yang bersifat statis seperti gambar-gambar dan yang bersifat dinamis atau kehidupan yang nyata di sekitar siswa. Hal ini membuktikan dalam pengembangan pembelajaran fiqih, harus sudah diperhitungkan pula fasilitas atau kelengkapan yang ada. Sebab tanpa memperhitungkan ini semua, suatu strategi yang betapa pun direncanakan dengan baik akan tidak efektif pula hasilnya

Referensi

[sociallocker id=1253][i] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya.(Jakarta, 2003, An Nahl 16:43), h: 408

[ii] HR. Abu Daud, At Timridzi, Ibn Hibban, dan Al Baihaqi, dari sahabat Abu Darda ra

[iii] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya.(Jakarta, 2007 At Taubah 9:122(, h:301

[iv] Jamal Ma’mur Asmani, fiqih social kiai sahal mahfudh,(Surabaya: khalista 2007)hal: 55

[v] Moh. Riva’i, 2005. Ushul Fiqih untuk PGA 6 Th., Mu’allimin, Madrasah Menengah Atas, Persiapan IAIN dan Madrasah-Madrasah yang Sederajat. (Bandung: Alma’arif. Cet. ke -5), h: 124-125.

[vi] Wahhab Khallaaf 2003. Ilmu Ushul al-Fiqh. (Kuweit: Daar al-Qalam. Cet. ke -2.), h: 11

[vii] Depag RI. 2003. Kurikulum Dan hasil belajar Fiqih Madrasah Tsanawiyah. (Jakarta: Depag RI), h: 2

[viii] Ibid, (Jamal Ma’mur Asmani 2007)hal: 60[/sociallocker]