Penyimpangan Sosial Yang Dilakukan Oleh Lansia Sebagai Dampak Pergeseran Perannya Dalam Masyarakat

Sebuah Tinjauan Sosiologi Keluarga

Masyarakat pada hakekatnya terbagi menjadi beberapa segmenyang berbeda. Salah satu segmen yang ada dalam masyarakat dan yang paling mudahuntuk diidentifikasi adalah segmen usia. Berdasarkan segmen usia, masyarakatsecara sederhana terdiri dari segmen usia anak-anak, remaja, dewasa, dan lansia(lanjut usia). Lansia atau orang lanjut usia sendiri adalah orang-orang yangtelah berumur lebih dari 60 tahun, di mana mereka telah mencapai fase usia yanglebih tinggi dibandingkan kategorisasi lain dalam segmen usia tersebut.

Keberadaan lansia sendiri memiliki peran penting sebagaimotor penggerak bagi generasi penerus mereka. Secara historis, lansia dapatdikatakan merupakan ‘pelopor’ pembangunan, di mana mereka sendiri pernahmengalami fase usia yang secara kategorial berada di bawah fase usianya yangsekarang, dan pada prosesnya, mereka menjalankan peran tersebut dalam masyarakatsampai pada akhirnya menyandang status sebagai ‘lansia’, di mana memiliki peranyang berbeda dengan peran yang mereka jalani sebelumnya. Dalam kajian sosiologikeluarga, peran tersebut merupakan peran Grandparenthood, di mana secara garisbesar menunjuk pada peranan sebagai pemegang transmisi nilai-nilai dalam masyarakat.

Namun, sehubungan dengan itu, menurut data yang ditemukan,pada tahun 2000 tercatat sekitar 7,18% penduduk Indonesia berusia lanjut (14,4juta orang), dan diperkirakan pada tahun 2020 jumlahnya akan mencapai 11,34%dari seluruh penduduk Indonesia (28,8 juta orang). Kondisi ini akan membebanipenduduk berusia produktif apabila ratio ketergantungan terus bertambah.

Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)memperkirakan pada 2025, lebih dari seperlima penduduk Indonesiaadalah orang lanjut usia (lansia).

“Ini merupakan fenomena yang tidak bisa dianggapbiasa,” ujar Deputi Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan, Nina Sardjunanpada jumpa pers Jakarta Forum on Social Protection for Senior Citizen inIndonesia and ASEAN Countries di Jakarta. Senin (12/11).

Menurut dia, kondisi tersebut disebabkan oleh menurunnyaangka mortalitas dan meningkatnya umur harapan hidup masyarakat Indonesia.”Jumlah populasi yang besar tersebut jangan sampai menjadi bebanpembangunan tetapi, aset pembangunan,” ujarnya.

Bersarkan statistik BPS, 59,12 persen lansia di Indonesiatergolong miskin, dan merupakan 27 persen dari total penduduk miskin. Selainitu, rata-rata pendidikan lansia di Indonesia hanya Sekolah Dasar tanpamemiliki pekerjaan tetap.

Menurut penjabaran di atas, dapat dilihat bahwa dewasa ini,terdapat adanya stereotype tersendiri terhadap kaum lansia, di mana merekadianggap sebagai suatu ‘beban’ bagi masyarakat tempat mereka berada, padahalsecara normatif, seperti yang telah dijabarkan sebelumnya, keberadaan lansiasebagai pemegang peran Grandparenthood sangat penting adanya bagi masyarakat.Dari situlah terdapat adanya pergeseran peran, di mana lansia yang dulunyamemiliki peran yang ‘dituakan’ justru bergeser menjadi ‘dianggap menyusahkan’.Keberadaan lansia menjadi tidak dianggap penting dalam pembangunan masyarakat.Pergeseran peran yang dialami lansia inilah yang nampaknya membawa dampak bagimasyarakat. Banyaknya kasus-kasus penyimpangan sosial yang diklasifikasikan kedalam tindak kejahatan (kriminalitas) yang dilakukan oleh lansia menjadi tandaadanya hubungan kausalitas antara perilaku menyimpang dengan dinamika sosialmasyarakat, di mana dalam hal ini dilakukan suatu segmen tertentu dalammasyarakat, yakni kelompok lansia.

Kelompok lansia yang semestinya memegang peran penting dalammasyarakat dan diharapkan dapat menjadi ‘motor penggerak’ pembangunan, namunpada kenyataannya, dewasa ini banyak sekali terjadi berbagai kasus penyimpanganyang diklasifikasikan ke dalam tindak kejahatan yang justru dilakukan olehlansia. Dalam hal ini, yang menjadi pertanyaan dalam adalah (1) Faktor-faktorapa sajakah yang mempengaruhi pergeseran peran lansia dalam masyarakat yangmendorong perilaku menyimpang mereka?, dan (2) Bagaimana cara menanggulangipenyimpangan sosial yang dilakukan lansia dalam masyarakat?

Dinamika masyarakat yang berjalan ke arah yang tidak sesuaidengan harapan anggotanya kadang memberikan dampak bagi masyarakat itu sendiri,yaitu ketika ada komponen masyarakat yang bereaksi sebagai hasil dari perubahantersebut. Salah satu cara dalam menanggulangi dampak dari perubahan adalahdengan memaksimalkan kewenangan para pemegang fungsi kontrol. Namun, keadaanakan berbeda apabila pihak yang harus dikontrol adalah pihak yang berada dalamsegmen yang nyaris berada pada ambang eksklusi, yakni kaum lansia.

Tak dapat dipungkiri, bahwa pergeseran peran yang dialamilansia dalam masyarakat menyebabkan mereka sedikit tereksklusi dari kehidupanpublik, di mana mereka mengalami disengagement yang pada akhirnya berujung padadegradasi peran. Degradasi peran yang dialami lansia sendiri nampaknya memilikidua bentuk, yakni degradasi peran di mana para lansia sebagai individu yangberkurang produktivitasnya maupun maupun degradasi peran di mana para lansiayang dahulunya ‘dituakan’ oleh masyarakat sekitarnya menjadi tidak lagi‘dituakan’ akibat adanya pergeseran budaya dalam masyarakat.

Dari situlah, fungsi kontrol dari para pemegang kewenanganjuga memiliki keterbatasan dalam meraih segmen ini, di mana fungsi kontrol(dalam hal ini seperangkat aturan, dsb) yang menjadi external containment bagimasyarakat menjadi tidak efektif. Faktor internal containment juga menjadimelemah pada segmen ini, di mana para lansia yang merasa tereksklusi kehilangankesadaran akan tanggung jawabnya dalam masyarakat.

Akibatnya timbulah peluang bagi segmen ini untuk melakukanpenyimpangan sosial. Bentuk-bentuk penyimpangan yang dilakukan juga beragam(lihat link-link pada ‘wacana’).

Melalui artikel-artikel dalam wacana, dapat dilihat adanyaperan yang melemah, khususnya peran grandparenthood yang dipegang para lansiayang melakukan perilaku menyimpang tersebut, di mana peran grandparenthood yangseharusnya menjadi fokus mereka menjadi hilang seiring dengan perubahan nilaikeluarga di mana mereka berada. Perubahan nilai keluarga tersebut rupanya jugamempengaruhi peranan simbolik yang seharusnya dijalankan oleh kaum lansia dalamkeluarga.

Melalui penjabaran di atas, dapat dilihat beberapa faktoryang memicu terjadinya penyimpangan sosial oleh lansia, yaitu:

  1. Penurunan kesehatan, serta status sosial-ekonomi yangdialami lansia, di mana mempengaruhi produktifitas serta status dan peranannyadalam masyarakat.
  2. Pergeseran budaya yang yang berujung pada pergeserannilai keluarga

Adapun, yang harus dilakukan demi menanggulangi dampak pergeseran peran tersebut adalah:

  1. Meminimalisir disengagement yang dialami para lansiadengan meningkatkan aktivitas mereka dalam masyarakat.
  2. Diperlukan perhatian dari pemerintah sebagai pemegangfungsi kontrol dalam menjaga kesejahteraan kaum lansia sebagai salah satubagian segmen penting dalam masyarakat.
  3. Apresiasi serta seperangkat aturan yang berlaku, sebagaisalah satu perwujudan reward and punishment dalam menanggapi permasalahanlansia.
Pada hakekatnya,lansia masih merupakan warga negara yang sah, memiliki eksistensi yang nyata,dan relasi baik secara sosial maupun kultural di dalam masyarakat. Oleh karenaitu, penyimpangan-penyimpangan yang terjadi yang melibatkan kelompok tersebutsudah seharusnya diberikan perhatian lebih, di mana secara sistemik, kelompoklansia masih merupakan bagian dari sistem masyarakat yang berada di bawahnaungan negara.