Proses Belajar Mengajar

Winkel (1989: 36) mendefinisikan belajar sebagai kegiatan psikologi yang berlaku dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan banyak perubahan pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Sementara, menurut Slameto (1995: 2), secara psikologis, belajar adalah proses perubahan sebagai akibat dari interaksi dengan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan dalam hidup. Perubahan ini tidak hanya dalam meningkatkan pengetahuan, tetapi juga keterampilan, sikap, cara berpikir, adaptasi bunga,, dan yang lainnya. Belajar adalah suatu kegiatan dilakukan oleh semua orang yang bisa menahan mana saja dan kapan saja.

Dari definisi tersebut, tampaknya, belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh manusia sebagai upaya untuk mendapatkan pengetahuan (kognitif), untuk menciptakan sikap (afektif), dan untuk meningkatkan konsep dan keterampilan (psikomotor) sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan. Dalam proses belajar, aktivitas dominan adalah interaksi antara guru dan siswa (Sardiman, 1986:170).

Menurut Sudjana (dalam Djamarah, 1995: 45), sama seperti belajar, mengajar adalah suatu proses. Ada proses mengendalikan, mengatur, memotivasi, membimbing, memfasilitasi, dan memberikan umpan balik kepada siswa dalam mengajar proses dan pembelajaran. Proses pengajaran tidak hanya menempatkan premi pada produk, tetapi juga pada proses pembelajaran. Jadi, guru perlu alat evaluasi yang dapat digunakan untuk menilai semua langkah proses belajar siswa demi langkah.