Sholat Merupakan Tiangnya Agama

Shalat adalah mi’rajnya orang beriman”, demikian sabda Rasul saw. Alangkah agung makna sabda tersebut bagi para pecinta. Dalam setiap shalatnya, seorang pecinta akan bercengkerama dengan Dzat yang dicintainya. Sehingga tidaklah heran apabila banyak riwayat yang menyebutkan bahwa baginda Rasul SAW dan para sahabatnya selalu menanti-nantikan tibanya waktu pelaksanaan shalat.

Shalat merupakan ajang bagi seorang pecinta untuk secara langsung berkeluh kesah dan menyampaikan kerinduannya kepada Dzat (Allah pencipta) yang dicintainya. Setiap pecinta yang hendak menunaikan shalat akan mempersiapkan betul keadaan dirinya dengan berhias sebaik mungkin. Sebabnya, pada saat itu dirinya akan berjumpa dengan kekasihnya, Allah swt. Ibadah shalat juga merupakan sarana komunikasi antara manusia dengan Allah swt. Bahkan, boleh dibilang sebagai sarana terbaik. Karena itulah, dalam berbagai riwayat, disebutkan bahwa shalat merupakan tonggak agama.
Fungsi diciptakannya Manusia pada prinsipnya adalah untuk melaksanakan ibadah kepada-Nya yang serba maha yang penuh dengan keikhlasan. Sedangkan tujuannya adalah untuk menggapai ridho-Nya. Pelaksanaan ibadah sangatlah luas seluas kehidupan manusia itu sendiri, orang yang melaksanakan ibadah shalat secara kaffah (totalitas) artinya dia selalu menjaga agamanya dengan paripurna. Shalat merupakan bagian dari ibadah, baik cara, maupun tata cara.

Adapun tatacara melaksanakan telah dikemas sedemikian rupa oleh Muhammad Rosulullah SAW. Dan shalat merupakan tiangnya agama (ibadah), juga shalat merupakan ibadah yang pertama kali akan dihisab. Sebagaimana dijelaskan dalam keterangan berikut:
”Rosulullah saw. Bersabda: sesungguhnya yang pertama kali diperhitungkan amalan seorang hamba di hari qiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya benar, maka sesungguhnya berbahagia dan beruntung tapi apabila tidak benar, maka sungguh celaka dan rugi. (H.R. Tirmidzi dan Nasa’i).”
Betapa pentingnya pelaksanaan shalat untuk lebih diperhatikan, tapi bukan berarti menafikan ibadah-ibadah yang lainnya. Melainkan pelaksanaan ibadah shalat menduduki peringkat pertama setelah dua kalimat syahadat, karena shalat bisa dikatakan sebagai barometer amal kita di dunia.
Sedangkan Shalat menurut bahasa adalah do’a memohon kebajikan, berarti juga keberkatan. Dengan do’a itu kita mendekatakan diri kepada Allah SWT memohon ampun dengan dosa yang telah kita perbuat, mensyukuri nikmat, menolak bencana atau menegakan suatu ibadat. Adapun pengertian menurut Syara’ adalah dalam perkataan ”dirikanlah shalat olehmu” ialah menghadapkan hati kepada Allah, hadap yang mendatangkan takut akan Allah dan menumbuhkan rasa kebesaran dan kekuasaan Allah dalam jiwa itu.
Dengan ibarat yang lain boleh juga dikatakan begini; Shalat itu ialah mendhahirkan hajat dan keperluan kita kepada Allah yang kita sembah, kita puji dan sanjung, dengan beberapa perbuatan dan beberapa perkataan yang telah dilaksankan Rosul kaifiyatnya atau tata tertibnya.Dengan ta’rif ini, nyatalah hakikat sembahyang.
Adapun jiwamya (ruh shalat), ialah menghadapkan jiwa kepada Allah dengan sepenuhnya dengan segala kehusyu’an dan ketawadhuan dengan ikhlas yang penuh baik dikala mengucapkan dzikir maupun di kala berdo’a ataupun dikala memuji.
Tegasnya, shalat itu menghadap jiwa kepada Allah dengan khusyu dan tawadhu, ikhlas dan yakin dengan beberapa perkerjaan dan perkataan yang telah ditentukan oleh syara’ (Agama).
Biasa para guru kita apabila memberikan ta’rif (definisi) sholat adalah beberapa perkataan dan beberapa perbuatan yang dimulai dengan takbir, diakhiri dengan salam ta’rif yang diberikan oleh para guru ini, sebenarnya, hanya mengenai rupa sholat saja, tidak menegaskan hakikat dan jiwa sembahyang. Oleh karena ta’rif sholat mereka memberikan demikian, dengan tidak terasa oleh mereka, masyarakat beranggapan bahwa lisan dan anggotanya, tertunailah kewajibanya terasa benar olehnya bahwa sembahyang itu tidak dianggap menjadi sholat yang diperintahkan, sebelum dilaksanakan dengan khusyu’, tawadhu dan ikhlas hati.